ORIENTASI

Mengapa sampah plastik mengapung di sungai? Bagaimana dampaknya bagi masyarakat sekitar?

“Pernahkah kalian melihat sungai? banyak sampah plastik dan logam bercampur.” Simak cerita berikut.

Hari Minggu pagi, siswa-siswa SMP “Harapan Bangsa” diajak ikut kegiatan bersih-bersih sungai di dekat sekolah. Sungai itu dulunya jernih dan jadi tempat warga mencuci dan bermain. Tapi sekarang, airnya coklat keruh dan penuh sampah plastik, logam, dan bahan-bahan ringan lainnya.

Di tengah kegiatan itu, tiga siswa Aira, Budi, dan Dimas memperhatikan sesuatu yang menarik. Aira mengambil bola bekas yang mengapung di permukaan, Budi mengangkat kaleng minuman yang tenggelam di dasar sungai, dan Dimas memungut gabus sabun yang “melayang” di tengah air.

“Eh… kenapa sih ada sampah yang mengapung, ada yang tenggelam, dan ada juga yang melayang kayak ini?” tanya Dimas sambil memperhatikan gabus sabun.

Aira, Budi, dan Dimas semakin penasaran dengan fenomena sampah-sampah itu. Mereka saling menatap, mencoba menebak alasan di balik perbedaan tersebut. Aira mengarahkan pandangannya ke permukaan sungai yang dipenuhi plastik dan benda-benda ringan lainnya.

“Aku pikir plastik itu lebih ringan daripada air, makanya dia mengapung,” kata Aira sambil menimbang bola bekas di tangannya.

Budi menggeleng pelan. “Tapi logam ini kan berat banget. Mungkin karena massa dan beratnya lebih besar, jadi dia tenggelam,” ujarnya sambil menunjukkan kaleng berkarat yang masih meneteskan air.

Sementara itu, Dimas masih memperhatikan gabus sabun yang melayang. “Kalau benda ini gimana? Kenapa dia nggak mengapung seperti plastik atau tenggelam seperti logam? Dia cuma… di tengah,” katanya sambil mengerutkan dahi.

Mereka bertiga kemudian memutuskan untuk mengumpulkan beberapa benda lain di sungai untuk dibandingkan. Guru yang mendampingi kegiatan itu tersenyum melihat rasa ingin tahu mereka.

“Kalian penasaran ya?” tanya guru tersebut.

Ketiganya mengangguk cepat.

“Bagus. Rasa ingin tahu seperti itulah yang membuat kalian menjadi ilmuwan hebat suatu hari nanti.”

Ayo selanjutnya kita ke konseptualisasi ya anak-anak!

Langkah Kecil untuk Masa Depan Berkelanjutan